Mat Kempul
dalam kesendirian aku berfikir
gunung adalah gunung
sungai adalah sungai
kemudian aku berfikir lagi
gunung bukanlah gunung
sungai bukanlah sungai
akhirnya aku menemukan rahasia
gunung adalah gunung
sungai adalah sungai
Kenari, 21 Desember 2008
Sabtu, 03 Januari 2009
Jumat, 26 Desember 2008
Bersedih Saatku
Waktu itu maghrib bersujud oleh sabdaNya
Berdiriku menjadi imam diantara pengikutku
Setiap gerakan kiranya air mata dan hati mengendus jauh
Melampauiku sebagai tuan
Dan semakin jauh ia merayap dalam nadi menyadarkan betapa aku ini
Kecil dihadapanNya
Sungguhkah saatku gelisah berdosa untuk menangis?
Sekedar berjanji untuk tidak lagi meratp
Kramat II, 10 Mei 2001
Berdiriku menjadi imam diantara pengikutku
Setiap gerakan kiranya air mata dan hati mengendus jauh
Melampauiku sebagai tuan
Dan semakin jauh ia merayap dalam nadi menyadarkan betapa aku ini
Kecil dihadapanNya
Sungguhkah saatku gelisah berdosa untuk menangis?
Sekedar berjanji untuk tidak lagi meratp
Kramat II, 10 Mei 2001
CALON ISTRIKU
Amin Bae
Sekiranya Engkau perkenankan kuambil hatimu sebagai mas kawinku
Kiranya ayam jantan takkan pernah memikul air mata, menggendong matahari
Dan menidurinya dengan nyanyian-nyanyian malam yang menggairahkan
Sekiranya ayam jantan memikul air mata menggendong matahari dan menidurinya dengan nyanyiannyanyyian malam yang menggairahkan
Takkah ada cemburu dari rasamu?
Dengan kembali meminta hatimu yang pernah kupinta
Sekiranya Engkau perkenankan kuambil hatimu sebagai maskawinku
Kiranya Engkaulah calon istriku
Kramat II, 4 Juni 2001
Sekiranya Engkau perkenankan kuambil hatimu sebagai mas kawinku
Kiranya ayam jantan takkan pernah memikul air mata, menggendong matahari
Dan menidurinya dengan nyanyian-nyanyian malam yang menggairahkan
Sekiranya ayam jantan memikul air mata menggendong matahari dan menidurinya dengan nyanyiannyanyyian malam yang menggairahkan
Takkah ada cemburu dari rasamu?
Dengan kembali meminta hatimu yang pernah kupinta
Sekiranya Engkau perkenankan kuambil hatimu sebagai maskawinku
Kiranya Engkaulah calon istriku
Kramat II, 4 Juni 2001
Selasa, 23 Desember 2008
Keharuman Bunga Setahun
Bunga Mawar Yang Kau Kirim
Aku Terima Saat Sepi
Menggigit-gigit
Dinding-dinding istana
Sepagi
kupinta malam.
Aku Terbangun Dari Ketertiduran
Sambil Membersihkan
Debu
Dan
Kotoran
Bekas
Ketertiduran Itu.
H a t i ku Perih
Mawar Itu
B e r d u r i
Sepagi
Embun pagi
memanjakan dedaunan.
Sepagi Kupinta Malam
Membenamkan Matahari.
Keharuman Bunga Setahun.
Diposkan oleh AMIN BAE di 07:55
KEHARUMAN BUNGA SETAHUN
Karya: Amin Bae
“Percayalah ketika tanganmu menggenggam banyak emas, banyak wanita yang dapat menerimamu!.“ ujar pria paruh baya sambil menghisap cerutu kampung dalam-dalam.
Ingatannya jelas!.
Ucapan itu masih saja mendengung-dengung ditelingannya. Dia merasa dirinya teramat hina, lebih hina dari seekor tikus got yang penuh koreng di kepalanya. Tanpa kaki!. Mengais makanan dari satu tempat sampah ke tempat lain. Demikian fikirnya, tak percaya ucapan itu terlontar dari seorang yang selama ini sangat dikenalnya.
“Atau mungkin….?.
Entahlah, jangan tanyakan padaku, aku tidak tahu!.
Perasaannya terus di hinggapi dan merasakan, betapa murahnya harga seorang laki-laki, seperti harga sekilo cabe busuk di pasar kaget!.
Tak lama membuka matanya, pandangannya membentur langit-langit kamarnya yang bersih dan terawat. Perlahan Ia merayap turun lalu keluar dengan sedikit bawaan yang tersimpan di dalam tas punggung.
“Aku berangkat, wa!”.
“Hati-hati di jalan, salam buat Manemu di kampung,” suara wanita setengah tua yang biasa di sapa Mbah Wiryo dengan kain mukena yang masih di kenakannya. Mbah Wiryo adalah istri pamannya yang telah meninggal lima tahun yang lalu akibat stroke.
Di luar hari masih gelap yang menggiring kearah sunyi. Lorong-lorong gang nampak lengang. Pagi itu udara begitu dingin dengan langit yang mulai menghitam pertanda akan segera turun menyusul hujan semalam.
“Mau kemana, Mas?,” suara kernet dengan perut buncitnya menyambut, persis saat tiba di mulut terminal Bus Pulogadung.
Langkahnya ringan, mulutnya tertutup rapat tak mengizinkannya tahu. Hatinya perih!. Melupakan saat-saat yang penuh suka cita, kenangan-kenangan manis dan pertengkaran-pertengkaran kecilnya.
“Benarkah?. Aku tak pantas duduk bersanding untuk sekedar mendapatkan cerita-cerita lucu yang membuatku tertawa?,” dia membatin.
“Jika saja kemiskinan berwujud manusia akan kubunuh manusia itu!.” Sambungnya dalam hati.
Suaranya diam tapi batinnya berkata jelas. “Pret!. Manusia macam apa itu?. Segalanya diukur dengan harta. Pekerjaan. Penghasilan. Keturunan darah birukah?. Gelar. Dan. Begitu jugakah untuk mendapatkan surga atau kita termasuk orang-orang yang tidak percaya adanya surga, sehingga kita takut kelaparan!. Cemas akan ketidak bahagiaan!.” Suaranya merajut.
“Tuhan sekali ini aku bertanya, apakah untuk mendapatkan seorang istri aku harus merebut dari Bapane karo Manene?”. Suaranya mendesak nyaris tak terdengar dengan bahasa Brebes-nya. Sebentar badannya limbung menahan perasaan yang begitu, ah!. Aku sendiri tidak yakin mampu menghadapi semua itu atau sekedar menasehati diri sendiri, “larilah jauh-jauh, lupakan wajah cantik itu!.” Aku jadi ikut kesal.
Dia menarik nafas dalam-dalam dan mengelurkannya perlahan, sedikit demi sedikit mencoba mengurangi sesak di dalam dadanya kemudian duduk bersandaran di pagar taman pintu masuk terminal. Tak lama kemudian ia berusaha bangkit saat Bus jurusan Jakarta-Tegal merayap keluar.
“Hai!. cepat naik!?,” pinta laki-laki tadi, kembali menawarinya.
Ia pun nurut.
“Damar!, aku ikut!,” suara lain terdengar menyusul. Damar segera memalingan wajahnya mencoba mencari arah suara. Sesaat tertegun.
“Hai!, sedang apa kamu disini?,” tanya Damar heran.
“Bukankah kamu….!?,” belum selesai Damar mengucapkan kalimatnya, nafasnya terasa sesak oleh tangan yang begitu putih dan halus menyumbatnya. Ada sentakan-sentakkan halus antara tangan-tangan yang saling bersentuhan saat Damar berusaha membukanya.
“Damar!, masih ingin membawaku, kan?,” suara Hanum lirih. Tangan yang kiri seperti akan terangkat, tapi tangan itu segera disambut Damar. Mereka saling berpegangan sangat erat.
“Berkenalan dengan Maneku, mau?,” kata Damar menyimpan ketidakpercayaan. Lengan Hanum spontan menindih lengan Damar.
“Kenapa, meragukan?,” gumam Hanum datar.
Damar diam.
“Ko, diam?,” harap Hanum manja. Damar menoleh ke arah Hanum. Wajahnya putih berseri. Mereka tampak ceria sekali. Tangannya kembali saling menggenggam erat. Sangat erat!. Takkan untuk dilepas.
“Bagaimana dengan Ayah Ibu, kamu?”.
“Ssssssssssssssssstttt,” secepat kilat jari telunjuk Hanum memenuhi bibir Damar.
“Sungguh!?”.
Hanum tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Kamu yakin!?”.
Hanum tidak mengangguk tidak juga menggeleng. Diikutinya langkah Damar yang semakin menjauh mendekati perkampungan. Tidak lama kemudian sampailah disuatu tempat, rumah bambu.
“Benarkan dan lihatlah!?. Inilah pemandangan kehidupan orang kampung yang miskin, lebih dari sederhana. Cukup untuk merebahkan tubuh menunggu pagi. “ suara Damar tanpa ragu.
“ Sungguh Damar!. Aku tahu ini.”
“Menjadi orang miskin itu tidak enak. Hanya orang yang berbakat saja yang dapat melewati hari-hari penuh kekurangan. Ditambah kesabaran!.“ Suara yang lain menimpali.
“Semua orang miskin pasti tahu soal urusan ini. Malah terkadang orang lain yang tidak sabar, melihat kesabaran kita mengahadapi ketidak beruntungan ini. Sambil menunggu kesadaran lain, betapapun kemiskinan akan mati saat hati ini mulai tergilas kerinduan kepada sang Maha Kaya.“ Sambungnya lagi.
Hanum diam dan tekun mendengarkan Mane Damar mencritakan kehidupanya. Sesekali manatap wajahnya yang mulai menahun duduk bersila. Matanya sayu namun teduh penuh ketulusan.
“Bagaimana menjalani ini, Ma!?”. Suara Hanum sedikit menyelidik.
“Kami menggarap sepetak sawah peninggalan Bapak, di hari yang lain berjualan kue basah bikinan sendiri untuk menopang kebutuhan yang lain menjadi cara kami untuk tidak meminta-minta, keliling kampung, ke sawah pada saat panen padi tiba. Layar tancap saat datangnya kompetisi pertandingan sepak bola perebutan ayam kampung.”
“Jadi….?”
“Damar tidak bercerita….?”.
Hanum menggeleng.
“Saat usia kandungan sembilan bulan, Bapak meninggalkan kami. Meninggalkan kami semua untuk selama-lamanya, saat kebahagiaan dan suka cita mendapati seorang bocah kecil yang lucu yang kami tunggu, 25 tahun. Damar lahir. Sungguh kiranya kalau mengingat-ingat peristiwa itu tak ubahnya orang gila, tak tahu arah hanya luka hati nan perih!. Sejak itulah kami berusaha hidup seadanya dan menjalani kenyataan hidup ini, dengan sangat prihatin. Walaupun demikian kami senang menjalaninya karena barangkali ini pilihan yang terbaik buat keluarga kami, dari Tuhan”.
Selesai Mane Damar mengakhiri ceritanya, Hanum mengusap butiran air mata yang menetes di setiap sudut kelopak matanya yang putih bersih lalu Ia menghambur keluar saat melihat Damar sedang berusaha membelah bambu di samping rumah. Hanum menerjang tidak menghiraukan larangannya Mane agar tetap duduk ditempatnya, menemani.
“Biar aku bantu!,” pinta Hanum mengagetkan.
Damar tersentak Heran.
“Apa yang mau dibantu?, sergah Damar.
“Lepaskan golok itu!.” paksa Hanum kuat.
“Hai, hai…haaaaaiiiiii, ini kerjaan laki-laki, non!”. Damar mempertahankan goloknya kuat.
“Kamu pikir hanya laki-laki yang bisa?” Paksa Hanum terengah-engah melepaskan tenaganya.
Mereka pun berebut golok sementara dari balik jendela Mane Damar memperhatikan. Perasaannya haru, melihat mereka begitu padu.
“Tapi, dia….,” mane Damar tak melanjutkan.
“Lo, kemana mereka!?,” Mane Damar kehilangan pandangannya. Mereka tidak lagi terlihat. Tidak lagi mendapati mereka saling tarik, berlari memperebutkan golok.
“Eeeeee…e…e..eeee, kan…kan……..
Mane, ’ngintip!”.
“Hussssst… membuat kaget Mane saja. Untung saja jantung Mane masih sehat,” seru Mane Damar sambil memegangi dadanya.
Kemudian mereka menuju ke balai rumah. Entahlah, bagaimana mane Damar menyiapkan. Sebentar masuk kedapur tak lama kemudian telah tersedia makan siang!. Ada sayur asam, sambal terong goreng, dan lalap-lalapan. Sepertinya, ugh!. Sedap!.
“Ayo, Non!, makan bareng-bareng,” pinta Mane Damar.
Hanum melirik Damar yang telah mendahului makan. Ia begitu lahap menyantap semua hidangan yang ada di hadapannya.
“Non!. Tunggu apa lagi?,” pinta Damar.
Hanum nurut lalu mengambil piring yang ada depannya.
“Lo, ko!. Itu kan punya Damar!”.
“Biarin!,” jawab Hanum riang. Damar tertawa dan mulai kembali melanjutkan makanya, di piring yang baru.
“Ayo, tambah lagi!?”.
“Oh, sudah cukup, Ma”
“Malu, ya. Padahal, Hanum kan makannya buaaaaaaaaanyak, lo Ma,” ledek Damar ringan.
“Damar!,” Hanum mencubit perut Damar. Damar tersentak dari mulutnya terlihat ada sesuatu yang mencoba keluar. Hanum menahannya.
“O, o!. Terong goreng tuh!.” Hanum berteriak tak sadar.
“Wieh, jorok!,” ejek Hanum sambil mencibirkan mulutnya kesamping.
“Biar jorok, cewekkukan cuaaaaantik!”.
“Hah!, kamu punya cewek lain, siapa Dia?”.
“Ada deh…!.”
Hanum Penasaran
“Ayo jujur!?,” cubitan Hanum kembali bersarang di perut Damar kuat-kuat.
Damar menyerah.
“Itu?.” Suara Hanum menebak.
Damar mengangguk sambil tertawa kecil. Hanum pun tersipu bak putri malu.
Setelah merasa cukup, Hanum menyudahi makannya dan membereskan bekas makan tadi sambil memunguti anak nasi yang tergeletak, kemudian membawanya ke dapur lalu mencuci piring sampai bersih. Disela pekerjaannya itu, Hanum membisikkan sesuatu di telinga Manenya Damar, dengan suara yang begitu lirih.
“Ma, besok saya akan pulang ke Jakarta!.” Sekalipun begitu berat untuk diucapkan. Rasanya suasana itu berkesan dan membekas dalam hatinya. Ingin rasanya Ia berlama-lama, namun bagaimanapun ia tidak ingin Bapak Ibunya menunggu lebih lama lagi.
xXx
Matahari tenggelam berganti malam. Sinar rembulan yang begitu sempurna menambah kesyahduan dua insan yang sedang dimabuk cinta. Begitu damai.
“Non!, belum tidur?,” tanya Mane Damar.
“Entahlah, mata ini sulit terpejam, Ma!”.
“Ya sudah. Tapi kalau nanti sudah mulai mengantuk, segera tidur. Pagi-pagi kamu harus bangun dan segera berangkat ke Jakarta, ” ujar mane Damar mengakhiri ucapannya. Begitu mau beranjak keluar dilihatnya Damar telah berdiri di depan pintu kamar. Mane Damar kaget, Iapun kembali duduk di sisi kiri Hanum kemudian di susul Damar, sama-sama duduk ditepi ranjang Bambu.
“Damar Hanum, Mane pernah merasa seperti kalian yang begitu sulit memejamkan mata saat kekasih hati berada disamping kita,” suara Mane Damar lirih namun jelas.
“Sekarang tidurlah!, ” sambungnya.
Mane Damar pergi meninggalkan mereka berdua. Damar dan Hanum menyambut gembira mendengar ucapan itu. Mereka pun memastikan Manenya terlelap tidur. Namun ada sesuatu ucapan yang mengganggu fikiran Damar atas pertanyaan Manenya.
”Bagaimana pendapatmu tentang Allah?. Apakah Dia tidur!?,” tanya Damar serius.
”Tidak!,” jawab Hanum yakin.
“Bahkan Allah tidak mengantuk dan tidak pula tidur!?.” lanjut Damar setengah yakin.
“Itu artinya Allah melihat kita sekalipun kita tidak melihat Dia. Dia yang berhak ditakuti bukan Mane kita!.” Tegas Hanum.
Tubuh mereka bergetar. Menggigil!. Keringatnya keluar dari sekujur tubuhnya tak terbendung, badannya basah dan dingin menelusup disetiap relung batin. Damar menghambur keluar meninggalkan Hanum. Kakinya terus saja gemetar hingga tak mampu lagi berdiri seakan ada sesuatu yang Maha Berat menindih punggungnya. Dilihat tangan yang begitu besar dengan jari-jari tangan yang kasar mencengkeram tubuhnya dan menahannya hingga tak mampu lagi bergerak. Damar terus saja memberontak melawan desakan yang semakin lama semakin kuat.
“Hai!. Cepat naik!?,” tangan laki-laki dengan perut buncit mendorongnya kasar.
“Hah!?, Astaghfirullah Hal Adzim!”.
“Percayalah ketika tanganmu menggenggam banyak emas, banyak wanita yang dapat menerimamu!.“ ujar pria paruh baya sambil menghisap cerutu kampung dalam-dalam.
Ingatannya jelas!.
Ucapan itu masih saja mendengung-dengung ditelingannya. Dia merasa dirinya teramat hina, lebih hina dari seekor tikus got yang penuh koreng di kepalanya. Tanpa kaki!. Mengais makanan dari satu tempat sampah ke tempat lain. Demikian fikirnya, tak percaya ucapan itu terlontar dari seorang yang selama ini sangat dikenalnya.
“Atau mungkin….?.
Entahlah, jangan tanyakan padaku, aku tidak tahu!.
Perasaannya terus di hinggapi dan merasakan, betapa murahnya harga seorang laki-laki, seperti harga sekilo cabe busuk di pasar kaget!.
Tak lama membuka matanya, pandangannya membentur langit-langit kamarnya yang bersih dan terawat. Perlahan Ia merayap turun lalu keluar dengan sedikit bawaan yang tersimpan di dalam tas punggung.
“Aku berangkat, wa!”.
“Hati-hati di jalan, salam buat Manemu di kampung,” suara wanita setengah tua yang biasa di sapa Mbah Wiryo dengan kain mukena yang masih di kenakannya. Mbah Wiryo adalah istri pamannya yang telah meninggal lima tahun yang lalu akibat stroke.
Di luar hari masih gelap yang menggiring kearah sunyi. Lorong-lorong gang nampak lengang. Pagi itu udara begitu dingin dengan langit yang mulai menghitam pertanda akan segera turun menyusul hujan semalam.
“Mau kemana, Mas?,” suara kernet dengan perut buncitnya menyambut, persis saat tiba di mulut terminal Bus Pulogadung.
Langkahnya ringan, mulutnya tertutup rapat tak mengizinkannya tahu. Hatinya perih!. Melupakan saat-saat yang penuh suka cita, kenangan-kenangan manis dan pertengkaran-pertengkaran kecilnya.
“Benarkah?. Aku tak pantas duduk bersanding untuk sekedar mendapatkan cerita-cerita lucu yang membuatku tertawa?,” dia membatin.
“Jika saja kemiskinan berwujud manusia akan kubunuh manusia itu!.” Sambungnya dalam hati.
Suaranya diam tapi batinnya berkata jelas. “Pret!. Manusia macam apa itu?. Segalanya diukur dengan harta. Pekerjaan. Penghasilan. Keturunan darah birukah?. Gelar. Dan. Begitu jugakah untuk mendapatkan surga atau kita termasuk orang-orang yang tidak percaya adanya surga, sehingga kita takut kelaparan!. Cemas akan ketidak bahagiaan!.” Suaranya merajut.
“Tuhan sekali ini aku bertanya, apakah untuk mendapatkan seorang istri aku harus merebut dari Bapane karo Manene?”. Suaranya mendesak nyaris tak terdengar dengan bahasa Brebes-nya. Sebentar badannya limbung menahan perasaan yang begitu, ah!. Aku sendiri tidak yakin mampu menghadapi semua itu atau sekedar menasehati diri sendiri, “larilah jauh-jauh, lupakan wajah cantik itu!.” Aku jadi ikut kesal.
Dia menarik nafas dalam-dalam dan mengelurkannya perlahan, sedikit demi sedikit mencoba mengurangi sesak di dalam dadanya kemudian duduk bersandaran di pagar taman pintu masuk terminal. Tak lama kemudian ia berusaha bangkit saat Bus jurusan Jakarta-Tegal merayap keluar.
“Hai!. cepat naik!?,” pinta laki-laki tadi, kembali menawarinya.
Ia pun nurut.
“Damar!, aku ikut!,” suara lain terdengar menyusul. Damar segera memalingan wajahnya mencoba mencari arah suara. Sesaat tertegun.
“Hai!, sedang apa kamu disini?,” tanya Damar heran.
“Bukankah kamu….!?,” belum selesai Damar mengucapkan kalimatnya, nafasnya terasa sesak oleh tangan yang begitu putih dan halus menyumbatnya. Ada sentakan-sentakkan halus antara tangan-tangan yang saling bersentuhan saat Damar berusaha membukanya.
“Damar!, masih ingin membawaku, kan?,” suara Hanum lirih. Tangan yang kiri seperti akan terangkat, tapi tangan itu segera disambut Damar. Mereka saling berpegangan sangat erat.
“Berkenalan dengan Maneku, mau?,” kata Damar menyimpan ketidakpercayaan. Lengan Hanum spontan menindih lengan Damar.
“Kenapa, meragukan?,” gumam Hanum datar.
Damar diam.
“Ko, diam?,” harap Hanum manja. Damar menoleh ke arah Hanum. Wajahnya putih berseri. Mereka tampak ceria sekali. Tangannya kembali saling menggenggam erat. Sangat erat!. Takkan untuk dilepas.
“Bagaimana dengan Ayah Ibu, kamu?”.
“Ssssssssssssssssstttt,” secepat kilat jari telunjuk Hanum memenuhi bibir Damar.
“Sungguh!?”.
Hanum tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
“Kamu yakin!?”.
Hanum tidak mengangguk tidak juga menggeleng. Diikutinya langkah Damar yang semakin menjauh mendekati perkampungan. Tidak lama kemudian sampailah disuatu tempat, rumah bambu.
“Benarkan dan lihatlah!?. Inilah pemandangan kehidupan orang kampung yang miskin, lebih dari sederhana. Cukup untuk merebahkan tubuh menunggu pagi. “ suara Damar tanpa ragu.
“ Sungguh Damar!. Aku tahu ini.”
“Menjadi orang miskin itu tidak enak. Hanya orang yang berbakat saja yang dapat melewati hari-hari penuh kekurangan. Ditambah kesabaran!.“ Suara yang lain menimpali.
“Semua orang miskin pasti tahu soal urusan ini. Malah terkadang orang lain yang tidak sabar, melihat kesabaran kita mengahadapi ketidak beruntungan ini. Sambil menunggu kesadaran lain, betapapun kemiskinan akan mati saat hati ini mulai tergilas kerinduan kepada sang Maha Kaya.“ Sambungnya lagi.
Hanum diam dan tekun mendengarkan Mane Damar mencritakan kehidupanya. Sesekali manatap wajahnya yang mulai menahun duduk bersila. Matanya sayu namun teduh penuh ketulusan.
“Bagaimana menjalani ini, Ma!?”. Suara Hanum sedikit menyelidik.
“Kami menggarap sepetak sawah peninggalan Bapak, di hari yang lain berjualan kue basah bikinan sendiri untuk menopang kebutuhan yang lain menjadi cara kami untuk tidak meminta-minta, keliling kampung, ke sawah pada saat panen padi tiba. Layar tancap saat datangnya kompetisi pertandingan sepak bola perebutan ayam kampung.”
“Jadi….?”
“Damar tidak bercerita….?”.
Hanum menggeleng.
“Saat usia kandungan sembilan bulan, Bapak meninggalkan kami. Meninggalkan kami semua untuk selama-lamanya, saat kebahagiaan dan suka cita mendapati seorang bocah kecil yang lucu yang kami tunggu, 25 tahun. Damar lahir. Sungguh kiranya kalau mengingat-ingat peristiwa itu tak ubahnya orang gila, tak tahu arah hanya luka hati nan perih!. Sejak itulah kami berusaha hidup seadanya dan menjalani kenyataan hidup ini, dengan sangat prihatin. Walaupun demikian kami senang menjalaninya karena barangkali ini pilihan yang terbaik buat keluarga kami, dari Tuhan”.
Selesai Mane Damar mengakhiri ceritanya, Hanum mengusap butiran air mata yang menetes di setiap sudut kelopak matanya yang putih bersih lalu Ia menghambur keluar saat melihat Damar sedang berusaha membelah bambu di samping rumah. Hanum menerjang tidak menghiraukan larangannya Mane agar tetap duduk ditempatnya, menemani.
“Biar aku bantu!,” pinta Hanum mengagetkan.
Damar tersentak Heran.
“Apa yang mau dibantu?, sergah Damar.
“Lepaskan golok itu!.” paksa Hanum kuat.
“Hai, hai…haaaaaiiiiii, ini kerjaan laki-laki, non!”. Damar mempertahankan goloknya kuat.
“Kamu pikir hanya laki-laki yang bisa?” Paksa Hanum terengah-engah melepaskan tenaganya.
Mereka pun berebut golok sementara dari balik jendela Mane Damar memperhatikan. Perasaannya haru, melihat mereka begitu padu.
“Tapi, dia….,” mane Damar tak melanjutkan.
“Lo, kemana mereka!?,” Mane Damar kehilangan pandangannya. Mereka tidak lagi terlihat. Tidak lagi mendapati mereka saling tarik, berlari memperebutkan golok.
“Eeeeee…e…e..eeee, kan…kan……..
Mane, ’ngintip!”.
“Hussssst… membuat kaget Mane saja. Untung saja jantung Mane masih sehat,” seru Mane Damar sambil memegangi dadanya.
Kemudian mereka menuju ke balai rumah. Entahlah, bagaimana mane Damar menyiapkan. Sebentar masuk kedapur tak lama kemudian telah tersedia makan siang!. Ada sayur asam, sambal terong goreng, dan lalap-lalapan. Sepertinya, ugh!. Sedap!.
“Ayo, Non!, makan bareng-bareng,” pinta Mane Damar.
Hanum melirik Damar yang telah mendahului makan. Ia begitu lahap menyantap semua hidangan yang ada di hadapannya.
“Non!. Tunggu apa lagi?,” pinta Damar.
Hanum nurut lalu mengambil piring yang ada depannya.
“Lo, ko!. Itu kan punya Damar!”.
“Biarin!,” jawab Hanum riang. Damar tertawa dan mulai kembali melanjutkan makanya, di piring yang baru.
“Ayo, tambah lagi!?”.
“Oh, sudah cukup, Ma”
“Malu, ya. Padahal, Hanum kan makannya buaaaaaaaaanyak, lo Ma,” ledek Damar ringan.
“Damar!,” Hanum mencubit perut Damar. Damar tersentak dari mulutnya terlihat ada sesuatu yang mencoba keluar. Hanum menahannya.
“O, o!. Terong goreng tuh!.” Hanum berteriak tak sadar.
“Wieh, jorok!,” ejek Hanum sambil mencibirkan mulutnya kesamping.
“Biar jorok, cewekkukan cuaaaaantik!”.
“Hah!, kamu punya cewek lain, siapa Dia?”.
“Ada deh…!.”
Hanum Penasaran
“Ayo jujur!?,” cubitan Hanum kembali bersarang di perut Damar kuat-kuat.
Damar menyerah.
“Itu?.” Suara Hanum menebak.
Damar mengangguk sambil tertawa kecil. Hanum pun tersipu bak putri malu.
Setelah merasa cukup, Hanum menyudahi makannya dan membereskan bekas makan tadi sambil memunguti anak nasi yang tergeletak, kemudian membawanya ke dapur lalu mencuci piring sampai bersih. Disela pekerjaannya itu, Hanum membisikkan sesuatu di telinga Manenya Damar, dengan suara yang begitu lirih.
“Ma, besok saya akan pulang ke Jakarta!.” Sekalipun begitu berat untuk diucapkan. Rasanya suasana itu berkesan dan membekas dalam hatinya. Ingin rasanya Ia berlama-lama, namun bagaimanapun ia tidak ingin Bapak Ibunya menunggu lebih lama lagi.
xXx
Matahari tenggelam berganti malam. Sinar rembulan yang begitu sempurna menambah kesyahduan dua insan yang sedang dimabuk cinta. Begitu damai.
“Non!, belum tidur?,” tanya Mane Damar.
“Entahlah, mata ini sulit terpejam, Ma!”.
“Ya sudah. Tapi kalau nanti sudah mulai mengantuk, segera tidur. Pagi-pagi kamu harus bangun dan segera berangkat ke Jakarta, ” ujar mane Damar mengakhiri ucapannya. Begitu mau beranjak keluar dilihatnya Damar telah berdiri di depan pintu kamar. Mane Damar kaget, Iapun kembali duduk di sisi kiri Hanum kemudian di susul Damar, sama-sama duduk ditepi ranjang Bambu.
“Damar Hanum, Mane pernah merasa seperti kalian yang begitu sulit memejamkan mata saat kekasih hati berada disamping kita,” suara Mane Damar lirih namun jelas.
“Sekarang tidurlah!, ” sambungnya.
Mane Damar pergi meninggalkan mereka berdua. Damar dan Hanum menyambut gembira mendengar ucapan itu. Mereka pun memastikan Manenya terlelap tidur. Namun ada sesuatu ucapan yang mengganggu fikiran Damar atas pertanyaan Manenya.
”Bagaimana pendapatmu tentang Allah?. Apakah Dia tidur!?,” tanya Damar serius.
”Tidak!,” jawab Hanum yakin.
“Bahkan Allah tidak mengantuk dan tidak pula tidur!?.” lanjut Damar setengah yakin.
“Itu artinya Allah melihat kita sekalipun kita tidak melihat Dia. Dia yang berhak ditakuti bukan Mane kita!.” Tegas Hanum.
Tubuh mereka bergetar. Menggigil!. Keringatnya keluar dari sekujur tubuhnya tak terbendung, badannya basah dan dingin menelusup disetiap relung batin. Damar menghambur keluar meninggalkan Hanum. Kakinya terus saja gemetar hingga tak mampu lagi berdiri seakan ada sesuatu yang Maha Berat menindih punggungnya. Dilihat tangan yang begitu besar dengan jari-jari tangan yang kasar mencengkeram tubuhnya dan menahannya hingga tak mampu lagi bergerak. Damar terus saja memberontak melawan desakan yang semakin lama semakin kuat.
“Hai!. Cepat naik!?,” tangan laki-laki dengan perut buncit mendorongnya kasar.
“Hah!?, Astaghfirullah Hal Adzim!”.
Minggu, 21 Desember 2008
INI PESANANMU
LALU APA
Mat Kempul
senjakala abad duasatu tiba meremang.
gundah melangkah loyo melaju.
melangkah gemetar dan ragu menapaki mayapada yang telah bergeliat lemah.
keringatku berbau limbah sungai ciliwung yang sekarat oleh limbah peradaban kini.
wajahku adalah mesinmesin pabrik yang tak punya senyum.
tawaku adalah peradaban industri yang telah memenjarakan norma, manusia dalam kungkungan raksasa yang besar dan mengerikan.
suaraku parau dengan otototot menonjol di leher mencoba menjerit.
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakh! modernisasi bisakah kau ubah haluanmu, berputar balik ke zaman onta gigit tali atau kuda gigit besi!?.
namun zaman berbalik berkacak dan membentakku: apa hak yang ada padamu untuk memaksa zaman!?.
tapi aku benci dasi yang berbau keringat penjajah!.
aku sebal melihat orang yang getol siang malam mencari uang!.
maneku mengeluh mengapa aku lebih suka pakai sepatu bak kafir eropa.
bukankah langgarku yang kecil ini lebih baik dari gedung yang megah itu!?.
mereka lupa akherat. maneku membanding, wis dadi jaman edan.
lalu mustikah aku membenci peradaban?.
perkembangan ilmu dan teknologi?.
gedung bertingkat?.
mengharamkan buah karya pemikiran?.
lalu apa?.
senjakala abad duasatu tiba meremang.
gundah melangkah loyo melaju.
melangkah gemetar dan ragu menapaki mayapada yang telah bergeliat lemah.
keringatku berbau limbah sungai ciliwung yang sekarat oleh limbah peradaban kini.
wajahku adalah mesinmesin pabrik yang tak punya senyum.
tawaku adalah peradaban industri yang telah memenjarakan norma, manusia dalam kungkungan raksasa yang besar dan mengerikan.
suaraku parau dengan otototot menonjol di leher mencoba menjerit.
aaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaakh! modernisasi bisakah kau ubah haluanmu, berputar balik ke zaman onta gigit tali atau kuda gigit besi!?.
namun zaman berbalik berkacak dan membentakku: apa hak yang ada padamu untuk memaksa zaman!?.
tapi aku benci dasi yang berbau keringat penjajah!.
aku sebal melihat orang yang getol siang malam mencari uang!.
maneku mengeluh mengapa aku lebih suka pakai sepatu bak kafir eropa.
bukankah langgarku yang kecil ini lebih baik dari gedung yang megah itu!?.
mereka lupa akherat. maneku membanding, wis dadi jaman edan.
lalu mustikah aku membenci peradaban?.
perkembangan ilmu dan teknologi?.
gedung bertingkat?.
mengharamkan buah karya pemikiran?.
lalu apa?.
Langganan:
Komentar (Atom)
